BUKTI MEDIA – Dalam dekade terakhir, sektor perbankan Vietnam telah mengalami transformasi yang luar biasa — dari lembaga sederhana yang hanya menunggu simpanan hingga kini menjadi sumber utama modal usaha yang menjadi penggerak ekonomi nasional. Perbankan kini bukan sekadar pemberi pinjaman, tapi juga mitra strategis bagi pelaku usaha, terutama Usaha Kecil dan Menengah (UKM), industri prioritas, dan sektor yang berkontribusi terhadap ekspor dan pembangunan regional. Dengan latar belakang pertumbuhan kredit yang kuat dan perubahan regulasi, perbankan Vietnam semakin fokus mengalokasikan modal untuk usaha produktif yang berkelanjutan.
Namun tantangan tetap ada: bank perlu menjaga stabilitas finansialnya sambil memenuhi kebutuhan modal para pelaku usaha di tengah persaingan global dan tekanan pasar. Pemerintah dan Bank Negara Vietnam (SBV) mengeluarkan kebijakan guna mendorong peningkatan modal dan kredibilitas perbankan agar dapat terus berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan risiko sistemik. Artikel ini mengulas strategi, tantangan, dan arah kebijakan perbankan Vietnam dalam memprioritaskan modal untuk usaha pada tahun 2026 dan seterusnya.
Kebijakan Perbankan: Memprioritaskan Kredit bagi Sektor Produktif
Dalam beberapa tahun terakhir, Bank Negara Vietnam (SBV) telah menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan mensyaratkan peran aktif sektor perbankan dalam menyalurkan modal kepada usaha—terutama bagi sektor industri, pertanian, teknologi tinggi, dan UKM. Beban modal dialihkan dari sektor yang disebut berisiko tinggi seperti real estate dan sekuritas, menuju sektor‑sektor yang mendorong penciptaan lapangan kerja dan ekspor. Dalam kebijakan kredit 2025, SBV secara eksplisit mendorong bank untuk memprioritaskan modal bagi produksi dan bisnis, termasuk usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi domestik.
Upaya ini tampak dalam pertumbuhan kredit yang meningkat pesat sejak awal tahun 2025, di mana total kredit mencatat kenaikan yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan ini tidak hanya mencerminkan permintaan dari dunia usaha, tetapi juga respons perbankan terhadap mandat regulator untuk memperluas pembiayaan produktif. Bank‑bank komersial didorong untuk menurunkan suku bunga dan memperluas program kredit yang lebih inklusif, sehingga modal menjadi lebih mudah diakses oleh sektor usaha yang sejatinya menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi.
Upaya Penguatan Modal Bank untuk Mendukung Usaha
Meski perbankan Vietnam telah memperluas penyaluran kredit, tidak serta‑merta modal bank selalu cukup. Untuk itu, bank‑bank di Vietnam secara aktif memperkuat struktur permodalannya melalui berbagai strategi, seperti penjualan utang, penerbitan saham baru, dan akuisisi modal asing. Komersialisasi aset tak berperforma tinggi juga menjadi bagian dari upaya bank dalam meningkatkan likuiditas dan modal dasar mereka. Strategi ini bukan hanya untuk memperkuat neraca bank, tetapi juga untuk memastikan mereka memiliki kapasitas yang cukup dalam menyalurkan modal kepada dunia usaha di 2026.
Selain itu, bank milik negara besar di Vietnam tengah berlomba meningkatkan modal agar mampu bersaing di tingkat regional dan mendukung ekspansi usaha lokal. Sebagai bagian dari target jangka panjang, otoritas perbankan menetapkan rencana untuk memasukkan setidaknya tiga bank Vietnam ke dalam daftar Asia’s Top 100 Banks, sebuah langkah strategis yang sekaligus memperluas kemampuan perbankan dalam menyediakan modal usaha yang kompetitif. Bank‑bank seperti VietinBank, BIDV, dan Vietcombank telah melakukan peningkatan modal melalui penerbitan saham dan penambahan modal inti agar siap menghadapi tuntutan ekonomi global.
Tantangan dalam Menyalurkan Modal Usaha
Walaupun perbankan Vietnam agresif dalam memperluas kredit, ada sejumlah tantangan yang membayangi langkah ini. Salah satunya adalah persyaratan kredit yang ketat, terutama soal jaminan dan riwayat kredit, sehingga UKM masih kesulitan mengakses modal meskipun telah ada dorongan dari regulator. Di banyak kasus, usaha kecil belum memiliki aset atau catatan keuangan yang layak sebagai jaminan, sehingga bank masih cenderung berhati‑hati dalam menyalurkan modal. Hal ini menjadi hambatan nyata dalam mendorong perluasan kredit ke segmen usaha kecil yang sangat membutuhkan dukungan modal.
Selain itu, perbankan juga menghadapi tekanan untuk menjaga kualitas aset dan mengendalikan rasio kredit bermasalah, terutama ketika harus menyeimbangkan antara ekspansi kredit dan stabilitas keuangan. Risiko pasar global dan volatilitas ekonomi menuntut bank untuk lebih selektif, bahkan ketika regulator mendorong peningkatan penyaluran modal. Karenanya, strategi pengelolaan risiko dan inovasi produk kredit menjadi faktor kunci agar bank Vietnam dapat tetap efektif dalam mendukung usaha tanpa mengorbankan stabilitas sistemik.
Bank sebagai Mitra Usaha dan Pilar Pertumbuhan Ekonomi
Perbankan Vietnam kini semakin dipandang sebagai mitra strategis dunia usaha dan bukan sekadar lembaga pemberi pinjaman. Bank‑bank menerapkan pendekatan yang lebih aktif dengan terlibat dalam program koneksi bisnis, konsultasi manajemen keuangan, serta penyediaan layanan yang dirancang untuk mendukung operasional usaha secara lebih luas. Pendekatan semacam ini, selain meningkatkan akses modal, juga membantu usaha dalam menyusun rencana keuangan yang lebih matang, memperluas pasar, dan meningkatkan produktivitas.
Keterlibatan sektor perbankan yang semakin dalam juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Dengan meningkatkan modal usaha dan memperluas pembiayaan bagi sektor produktif, bank‑bank membantu mendorong investasi, meningkatkan ekspor, dan menciptakan lapangan kerja. Hal ini sejalan dengan visi Vietnam untuk menjadi salah satu ekonomi dinamis di kawasan Asia Tenggara dengan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, menjadikan perbankan bukan sekadar pelaku finansial, tetapi pilar utama dalam pertumbuhan usaha dan ekonomi nasional.
