Keras! Kompolnas Geram Influencer Diteror, Rumah Dilempar Bom Molotov Bangkai Ayam & Telor Busuk

BUKTI MEDIA Sebuah insiden menggemparkan terjadi terhadap seorang influencer ternama di Jakarta, yang rumahnya dilempar dengan bom molotov berisi bangkai ayam dan telur busuk. Peristiwa ini terjadi pada Senin malam (1/1/2026) dan segera menarik perhatian publik serta aparat keamanan.

Korban, yang juga dikenal aktif di media sosial dan kerap memberikan kritik sosial, mengatakan bahwa teror ini jelas bertujuan intimidasi dan menakut-nakuti.

“Saya sangat kaget, tapi syukur tidak ada yang terluka. Ini jelas bentuk tekanan agar saya berhenti bersuara,” ujarnya kepada media.

Kompolnas Kecam Tindakan Teror

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) bereaksi keras terhadap kejadian ini. Ketua Kompolnas, Irjen Pol (Purn) Budi Santoso, menyatakan, “Kami sangat geram atas teror terhadap influencer ini. Jika dibiarkan, tindakan semacam ini bisa menjadi preseden berbahaya dan melemahkan kebebasan berekspresi.”

Kompolnas menekankan bahwa teror fisik atau simbolik kepada publik figur tidak boleh terjadi, apalagi jika mengandung unsur intimidasi terhadap warga yang aktif di media sosial.

Kronologi Insiden

Menurut laporan awal polisi, pelaku melemparkan bom molotov berisi bangkai ayam dan telur busuk ke halaman rumah korban sekitar pukul 22.30 WIB. Ledakan kecil tidak menimbulkan api besar, namun bau menyengat menyebar ke sekeliling rumah.

Tetangga yang melihat kejadian segera melaporkan ke aparat keamanan. Polisi langsung memasang garis polisi dan melakukan penyelidikan awal, termasuk memeriksa rekaman CCTV dan saksi mata di lokasi kejadian.

Dampak Psikologis pada Korban

Teror ini tidak hanya menimbulkan kekacauan fisik, tetapi juga dampak psikologis bagi korban dan keluarganya. Aktivis keamanan siber dan psikolog menekankan bahwa intimidasi seperti ini dapat menimbulkan stres berat, ketakutan, dan trauma, terutama jika dilakukan berulang.

Seorang psikolog yang dimintai komentar mengatakan, “Meskipun tidak ada korban fisik, teror simbolik yang menyeramkan seperti ini bisa meninggalkan efek jangka panjang, seperti rasa takut untuk beraktivitas atau bersuara di ruang publik.”

Ancaman terhadap Kebebasan Berekspresi

Kasus ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kebebasan berekspresi dan keamanan publik figur di era digital. Influencer yang kerap menyuarakan opini atau kritik sosial rentan menjadi target intimidasi dari pihak-pihak yang merasa dirugikan atau tidak setuju.

Kompolnas menekankan bahwa negara harus menjamin perlindungan hukum bagi setiap warga negara, termasuk influencer, agar mereka bisa beraktivitas tanpa rasa takut.

Respons Aparat Penegak Hukum

Polisi Metro Jakarta Selatan langsung menanggapi laporan tersebut dengan membentuk tim khusus untuk menangani kasus ini. Kepala Polisi Metro Jakarta Selatan, Kombes Pol Andi Wijaya, menyatakan:

“Kami memandang serius insiden ini. Penyelidikan akan mencakup identifikasi pelaku, motif, dan kemungkinan keterlibatan pihak lain. Kami pastikan korban mendapatkan perlindungan penuh.”

Selain itu, aparat juga menambah patroli di wilayah sekitar untuk mencegah terulangnya aksi serupa.

Potensi Pelaku dan Motif

Meski polisi masih melakukan penyelidikan, beberapa pihak menduga motif pelaku berkaitan dengan konten kritis korban di media sosial. Pelaku mungkin ingin menimbulkan intimidasi dan membuat korban berhenti menyuarakan pendapatnya.

Kompolnas menekankan bahwa tidak ada alasan yang membenarkan penggunaan kekerasan atau ancaman terhadap warga, apalagi dengan metode yang ekstrem seperti bom molotov atau bahan biologis.

Solidaritas Publik dan Dukungan

Kasus ini memicu gelombang solidaritas dari berbagai pihak, termasuk influencer lain, organisasi hak asasi manusia, dan komunitas digital. Mereka menyerukan agar tindakan intimidasi ini dihentikan dan pelaku diproses sesuai hukum.

Beberapa lembaga menyatakan dukungan publik melalui kampanye online, meminta aparat menindak tegas agar efek jera berlaku bagi pelaku intimidasi.

Tindakan Pencegahan dan Edukasi

Kompolnas juga mendorong masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan keamanan diri, terutama bagi mereka yang aktif di media sosial atau mengekspresikan opini kritis.

Beberapa langkah pencegahan yang disarankan:

  • Memasang sistem keamanan rumah, seperti CCTV dan alarm.
  • Menghindari menyebarkan lokasi atau jadwal pribadi secara publik.
  • Segera melaporkan setiap ancaman atau tindakan mencurigakan ke aparat.

Edukasi ini penting agar setiap warga bisa melindungi diri tanpa harus menutup kebebasan berekspresi.

Negara Harus Tegas

Insiden teror terhadap influencer ini bukan sekadar masalah individu, tetapi isu keamanan publik dan kebebasan berpendapat. Kompolnas menegaskan bahwa jika tindakan ini dibiarkan tanpa pengusutan tuntas, negara seolah memberi toleransi terhadap intimidasi.

Pihak berwenang harus mengambil langkah cepat: mengidentifikasi pelaku, memastikan korban aman, dan menindak pelaku sesuai hukum. Dukungan publik dan pengawasan media juga penting agar kasus seperti ini tidak menjadi preseden yang merusak kebebasan dan keamanan warga.

Dengan penegakan hukum yang tegas, transparan, dan adil, masyarakat bisa melihat bahwa Indonesia melindungi warganya dari teror dan intimidasi, sekaligus menjaga kebebasan berekspresi yang merupakan fondasi demokrasi.

By admin