​Lapas Tual Perluas Unit Bisnis Hidroponik Selada

BUKTI MEDIA Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Tual, Maluku, memperluas unit bisnis hidroponik selada sebagai bagian dari program produktivitas bagi warga binaan. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan kerja, tetapi juga memberikan peluang ekonomi mandiri bagi narapidana.

Program hidroponik selada yang telah berjalan sebelumnya menunjukkan hasil yang menjanjikan. Tanaman yang ditanam menggunakan sistem tanpa tanah ini mampu tumbuh lebih cepat, hemat air, dan menghasilkan selada berkualitas tinggi. Keberhasilan ini mendorong pihak lapas untuk memperluas unit bisnis, menambah kapasitas produksi, serta melibatkan lebih banyak warga binaan dalam setiap tahap budidaya.

Sistem Hidroponik yang Efisien

Sistem hidroponik yang diterapkan di Lapas Tual menggunakan teknik sirkulasi nutrisi yang terkontrol, sehingga tanaman mendapatkan asupan mineral yang optimal. Kepala Lapas Tual, Irwan Prasetyo, menjelaskan, “Dengan sistem ini, selada bisa panen dalam waktu lebih cepat dibandingkan metode konvensional, serta kualitas sayuran tetap terjaga.”

Selain itu, sistem hidroponik memungkinkan pengelolaan lahan secara efisien. Lahan terbatas di dalam lapas dapat dimanfaatkan maksimal, sementara risiko hama dan penyakit tanaman dapat diminimalkan. Metode ini juga ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan pestisida dan meminimalkan limbah.

Peningkatan Kapasitas Produksi

Sejak awal program, Lapas Tual telah memproduksi ratusan kilogram selada per bulan. Dengan perluasan unit bisnis, kapasitas produksi diperkirakan meningkat dua hingga tiga kali lipat. Hal ini akan memungkinkan penjualan selada ke pasar lokal, restoran, dan hotel di wilayah Maluku, sekaligus memberikan pemasukan tambahan untuk pengembangan lapas.

Warga binaan dilibatkan mulai dari persiapan media tanam, penanaman bibit, perawatan tanaman, hingga panen dan pengemasan. Pelibatan langsung ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan rasa tanggung jawab, disiplin, dan kerjasama tim.

Pelatihan dan Keterampilan Warga Binaan

Selain kegiatan praktik, Lapas Tual juga menyediakan pelatihan formal terkait hidroponik dan kewirausahaan. Warga binaan belajar mengelola nutrisi tanaman, memantau pertumbuhan, hingga memasarkan hasil panen. Materi ini dirancang agar setelah bebas, mereka memiliki keterampilan yang dapat diaplikasikan untuk mencari penghasilan mandiri.

Salah satu warga binaan, Andi (nama samaran), mengaku merasa lebih percaya diri setelah mengikuti program hidroponik. “Saya belajar cara menanam, merawat, dan menjual selada. Ini pengalaman berharga yang bisa saya gunakan nanti,” ujarnya.

Manfaat Ekonomi dan Sosial

Unit bisnis hidroponik selada memberikan manfaat ganda. Secara ekonomi, hasil panen dapat dijual untuk mendukung operasional lapas dan program pembinaan. Secara sosial, program ini membekali warga binaan dengan keterampilan yang bermanfaat, mendorong kemandirian, dan membantu mengurangi risiko residivisme.

Kepala Seksi Pembinaan, Dian Pratama, menjelaskan, “Tujuan utama kami adalah membekali warga binaan dengan keahlian yang berguna. Dengan keterampilan ini, mereka memiliki peluang untuk produktif dan mandiri setelah masa hukuman selesai.”

Dukungan dan Kolaborasi dengan Pihak Luar

Lapas Tual bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk mendukung pengembangan unit bisnis hidroponik. Universitas lokal, dinas pertanian, dan pelaku industri pangan memberikan pelatihan, bantuan teknis, serta akses pasar. Kolaborasi ini memastikan kualitas produk tetap tinggi dan pengelolaan bisnis berjalan profesional.

Selain itu, kolaborasi dengan pihak swasta juga membuka peluang pemasaran hasil panen lebih luas, sehingga program ini bisa menjadi model bisnis berkelanjutan bagi lapas lain di Indonesia.

Tantangan dalam Pengembangan

Meski berhasil, pengembangan unit bisnis hidroponik tidak lepas dari tantangan. Lapas harus memastikan pasokan nutrisi dan peralatan hidroponik tetap stabil, mengelola ketersediaan air bersih, serta menjaga keamanan area produksi. Selain itu, pelatihan warga binaan harus terus dilakukan agar kualitas produksi tetap konsisten.

Pihak lapas menyadari bahwa keberhasilan program ini bergantung pada perencanaan matang, disiplin warga binaan, dan dukungan berkelanjutan dari pihak terkait.

Harapan untuk Masa Depan

Dengan perluasan unit bisnis hidroponik selada, Lapas Tual berharap dapat menjadi model bagi lapas lain di Indonesia. Program ini menunjukkan bahwa pendekatan pembinaan yang kreatif dan produktif tidak hanya bermanfaat bagi warga binaan, tetapi juga mendukung kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi lokal.

Kepala Lapas menekankan, “Hidroponik bukan sekadar menanam sayur, tetapi membangun mental, keterampilan, dan peluang ekonomi. Kami ingin setiap warga binaan siap menghadapi kehidupan setelah bebas dengan bekal keterampilan yang nyata.”

Hidroponik sebagai Jalan Produktivitas

Perluasan unit bisnis hidroponik selada di Lapas Tual mencerminkan pendekatan pembinaan berbasis produktivitas yang inovatif. Program ini tidak hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga membuka peluang ekonomi mandiri bagi warga binaan.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa lapas dapat menjadi pusat pembelajaran, produktivitas, dan transformasi sosial, bukan sekadar tempat penahanan. Dengan dukungan teknologi, pelatihan, dan kolaborasi, hidroponik di Lapas Tual bisa menjadi contoh bagi lembaga pemasyarakatan lain untuk mengembangkan program produktif yang bermanfaat bagi warga binaan dan masyarakat luas.

By admin