BUKT MEDIA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus memperkuat langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional dengan mendorong pengembangan sorgum sebagai pangan alternatif. Upaya terbaru dilakukan melalui penguatan teknologi budidaya dan hilirisasi sorgum di wilayah Karawang dan Bandung, Jawa Barat. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dan gandum impor.
Sorgum dinilai memiliki potensi besar karena mampu tumbuh di berbagai kondisi lahan, termasuk lahan kering dan marginal. Selain itu, sorgum memiliki nilai gizi tinggi dan dapat diolah menjadi beragam produk pangan maupun pakan ternak.
Karawang dan Bandung Jadi Lokasi Percontohan
Pemilihan Karawang dan Bandung sebagai lokasi pengembangan sorgum bukan tanpa alasan. Karawang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional dengan infrastruktur pertanian yang relatif matang. Sementara Bandung, khususnya wilayah Bandung Barat dan sekitarnya, memiliki ekosistem riset dan inovasi pertanian yang kuat.
Bapanas memandang kedua wilayah ini sebagai lokasi strategis untuk mengintegrasikan teknologi pertanian modern, riset, dan pendampingan petani. Dengan pendekatan ini, diharapkan produktivitas sorgum dapat meningkat secara signifikan dan berkelanjutan.
Penguatan Teknologi Budidaya Sorgum
Dalam program ini, Bapanas mendorong penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien dan adaptif. Beberapa teknologi yang diperkenalkan meliputi penggunaan benih unggul, sistem irigasi hemat air, pemupukan presisi, serta mekanisasi pertanian.
Teknologi digital juga mulai diperkenalkan, seperti pemantauan pertumbuhan tanaman berbasis data dan penggunaan aplikasi pertanian untuk membantu petani dalam pengambilan keputusan. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan hasil panen sekaligus menekan biaya produksi.
Hilirisasi dan Nilai Tambah Produk Sorgum
Tidak hanya fokus pada budidaya, Bapanas juga menaruh perhatian besar pada hilirisasi sorgum. Di Karawang dan Bandung, pengembangan diarahkan pada pengolahan sorgum menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti tepung sorgum, beras sorgum, camilan sehat, hingga bahan baku industri pangan.
Hilirisasi dinilai penting agar petani tidak hanya bergantung pada penjualan hasil panen mentah. Dengan adanya industri pengolahan di dekat sentra produksi, rantai pasok menjadi lebih pendek dan nilai ekonomi yang diterima petani meningkat.
Kolaborasi dengan Petani dan Akademisi
Program pengembangan sorgum ini melibatkan kolaborasi lintas sektor. Bapanas bekerja sama dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, serta kelompok tani. Akademisi berperan dalam riset varietas unggul dan pengembangan teknologi, sementara petani menjadi aktor utama dalam implementasi di lapangan.
Pendampingan intensif dilakukan untuk memastikan petani memahami teknik budidaya sorgum secara optimal. Selain itu, pelatihan pascapanen dan kewirausahaan juga diberikan agar petani mampu mengembangkan usaha berbasis sorgum secara mandiri.
Dukungan Kebijakan dan Pembiayaan
Untuk memperkuat program ini, Bapanas juga mendorong dukungan kebijakan dan akses pembiayaan. Pemerintah daerah didorong untuk memasukkan sorgum dalam perencanaan pembangunan pertanian daerah. Sementara itu, akses terhadap kredit usaha tani dan kemitraan dengan sektor swasta terus diperluas.
Kebijakan afirmatif ini diharapkan mampu menarik minat petani untuk menanam sorgum secara berkelanjutan, sekaligus menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku industri pangan berbasis sorgum.
Tantangan dalam Pengembangan Sorgum
Meski memiliki potensi besar, pengembangan sorgum masih menghadapi sejumlah tantangan. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang sorgum, keterbatasan pasar, serta persepsi bahwa sorgum adalah pangan alternatif kelas dua menjadi hambatan tersendiri.
Bapanas menilai edukasi dan promosi konsumsi sorgum menjadi kunci penting. Dengan memperkenalkan sorgum sebagai pangan sehat dan modern, diharapkan penerimaan masyarakat terhadap komoditas ini semakin meningkat.
Dampak terhadap Ketahanan Pangan
Penguatan teknologi pengembangan sorgum di Karawang dan Bandung diharapkan memberikan dampak nyata terhadap ketahanan pangan nasional. Diversifikasi pangan menjadi semakin penting di tengah perubahan iklim dan ketidakpastian global yang dapat mengganggu pasokan pangan.
Sorgum yang adaptif dan efisien menjadi solusi alternatif yang relevan untuk menghadapi tantangan tersebut. Selain itu, pengembangan sorgum juga membuka peluang ekonomi baru di pedesaan dan memperkuat kesejahteraan petani.
Langkah Bapanas memperkuat teknologi pengembangan sorgum di Karawang dan Bandung merupakan strategi penting dalam membangun sistem pangan nasional yang tangguh dan berkelanjutan. Dengan dukungan teknologi, kolaborasi lintas sektor, serta kebijakan yang tepat, sorgum berpotensi menjadi komoditas unggulan masa depan.
Upaya ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan mendorong kemandirian pangan Indonesia. Ke depan, keberhasilan program ini dapat menjadi model pengembangan sorgum di wilayah lain di Tanah Air.
