Travel Pakai AI Bikin Aman atau Bahaya, Begini Fakta dan Cara Aman Menggunakannya

BUKTI MEDIA Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini telah merambah hampir seluruh sektor kehidupan, termasuk pariwisata. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak wisatawan yang memanfaatkan AI untuk merencanakan perjalanan, mencari destinasi terbaik, menyusun itinerary, menentukan bujet, memesan hotel, hingga mencari rekomendasi kuliner bahkan spot foto tersembunyi. Kehadiran AI seperti aplikasi buatan agen perjalanan digital, chatbot, hingga platform analisis perjalanan memang menawarkan kemudahan dan efisiensi. Traveler seperti tidak lagi perlu membuka puluhan tab, membandingkan harga satu per satu, atau mencari jadwal transportasi secara manual.

Namun, perkembangan ini memunculkan pertanyaan besar: benarkah travel dengan bantuan AI benar-benar aman? Atau justru menyimpan risiko yang tak disadari pengguna? Jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak.” AI memiliki potensi luar biasa, tetapi juga menyimpan ancaman jika digunakan tanpa pemahaman yang tepat.

Baca juga : Temukan Produk Kreatif UMKM di Pameran Inkubator Bisnis Palu Terkini

Keuntungan Menggunakan AI dalam Perjalanan Wisata

Sebelum melihat sisi gelapnya, tak dapat dipungkiri bahwa AI memberikan begitu banyak manfaat pada sektor pariwisata.

Pertama, AI membantu personalisasi perjalanan lebih tepat sasaran. Aplikasi AI mampu memahami preferensi traveler berdasarkan data yang terekam, seperti jenis destinasi favorit, gaya perjalanan, frekuensi perjalanan, hingga estimasi anggaran. Data tersebut kemudian dipakai untuk memberikan rekomendasi yang benar-benar sesuai dengan keinginan pengguna, bukan sekadar promosi acak.

Kedua, AI membuat proses pencarian informasi jauh lebih cepat. traveler kini hanya perlu memberikan prompt seperti “susun itinerary 3 hari di Bangkok dengan bujet 3 juta rupiah,” dan AI akan menghasilkan rencana perjalanan secara detail, lengkap dengan biaya perkiraan, transportasi, hingga tempat makan terjangkau.

Ketiga, AI meningkatkan akurasi perhitungan biaya perjalanan. Banyak traveler kesulitan mengestimasi budget, terutama untuk perjalanan ke luar negeri. AI dapat membandingkan biaya hotel, tiket, perjalanan darat, dan konsumsi, lalu menyusun proyeksi keuangan yang akurat berdasarkan data terbaru.

Keempat, di negara tertentu, AI terintegrasi dengan layanan transportasi publik, memungkinkan wisatawan mendapatkan panduan waktu nyata, informasi gangguan transportasi, hingga rute tercepat.

Risiko dan Bahaya Penggunaan AI untuk Traveling

Meski menawarkan banyak kemudahan, ada sejumlah risiko yang harus diwaspadai pengguna.

Salah satu yang paling serius adalah risiko kebocoran data pribadi. Banyak aplikasi AI mengumpulkan informasi sensitif seperti lokasi, kebiasaan perjalanan, identitas diri, hingga detail pembayaran. Jika platform tidak memiliki keamanan kuat, data ini bisa bocor, dicuri, atau diperjualbelikan.

Selain itu, AI tidak selalu memberikan informasi akurat, terutama untuk detail perjalanan yang berubah cepat seperti jadwal transportasi, harga penginapan, hingga peraturan imigrasi terbaru. Beberapa traveler mengaku sempat tertipu informasi kedaluwarsa karena hanya mengandalkan jawaban AI tanpa mengecek sumber resmi.

Risiko lain adalah algoritma bias dan promosi terselubung. Dalam beberapa kasus, rekomendasi AI bukan murni yang terbaik, tetapi hasil kontrak bisnis dengan penyedia layanan tertentu. Traveler mungkin mendapatkan rekomendasi yang kurang sesuai hanya karena ada kemitraan komersial di baliknya.

Yang terpenting, AI tidak mampu memahami konteks situasi lapangan sepenuhnya. Ketika terjadi kondisi darurat seperti bencana alam, pemadaman transportasi massal, atau kerusuhan lokal, AI mungkin tidak memiliki pembaruan real-time yang memadai. Di sinilah intuisi manusia tetap lebih dapat diandalkan.

Contoh Kasus Ketika AI Membuat Traveler Terjebak

Beberapa laporan menyebutkan insiden wisatawan tersesat karena mengikuti petunjuk AI terlalu mentah. Ada wisatawan yang memilih rute hiking “tercepat” berdasarkan rekomendasi AI, padahal jalurnya berbahaya dan tidak direkomendasikan bagi pendaki pemula.

Ada juga pengguna yang memesan hotel setelah melihat review hasil rangkuman AI, tetapi ternyata informasi palsu atau tidak terverifikasi. Kasus seperti ini menunjukkan bahwa AI hanya alat bantu, bukan instrumen yang bisa dipercaya 100% tanpa pengecekan ulang.

Tips Aman Menggunakan AI untuk Merencanakan Perjalanan

Menggunakan AI untuk traveling tetap aman selama traveler memahami batasannya. Berikut beberapa cara praktis untuk meminimalkan risiko:

1. Gunakan AI untuk riset awal, bukan keputusan akhir

Biarkan AI memberikan gambaran umum, tetapi selalu lakukan cross-check dengan situs resmi seperti maskapai, hotel, agen wisata, atau portal pemerintah.

2. Jangan berikan data pribadi yang tidak perlu

Hindari memasukkan informasi sensitif seperti nomor paspor, kode booking pesawat, detail kartu kredit, atau lokasi real-time kecuali yakin sistemnya terpercaya.

3. Cek kembali ulasan dan sumber rekomendasi

Jangan langsung percaya review yang dirangkum AI. Kunjungi situs ulasan terpercaya seperti Google Maps, Booking, atau Tripadvisor.

4. Gunakan platform yang memiliki reputasi baik

Pastikan aplikasi memiliki standar keamanan data, enkripsi, serta kebijakan privasi yang jelas.

5. Selalu punya rencana cadangan manual

Jika aplikasi tiba-tiba error, baterai habis, atau jaringan hilang, traveler masih bisa melanjutkan perjalanan tanpa bergantung pada AI sepenuhnya.

Simpulan AI Membantu, Manusia Tetap Mengendalikan

Travel bersama AI adalah revolusi besar dalam dunia pariwisata. Teknologi ini mempermudah perencanaan perjalanan dan memberi pengalaman wisata lebih efisien. Namun, AI tetaplah alat bantu yang harus digunakan dengan penuh kesadaran. Traveler tetap menjadi pengendali utama, bukan sekadar pengguna pasif yang menyerahkan semua keputusan pada teknologi.

Dengan kombinasi kecerdasan teknologi dan kebijaksanaan manusia, perjalanan modern bisa menjadi lebih aman, hemat waktu, dan lebih menyenangkan.

By admin